Cerita dari seorang yang sudah tua

  

Cerita ini nyata, hanya saja bahasa yang saya tulis sedikit berbeda dengan bahasa asli dari yang bercerita, dari bahasa jawa saya ubah ke bahasa indonesia.

Orang yang tua itu biasanya adzan di tempat saya mengaji ketika saya masih SD dan SMP dulu. Dia bercerita kepada saya mengenai kondisi orang berpangkat sekarang. Mari kita mulai saja ceritanya.


Orang tua itu pagi-pagi sekali datang ke pengobatan gratis di balai desa. Dia mengeluhkan sakit asamurat dan sebagainya.

Di balai desa tersebut, hari-hari tertentu ada pengobatan gratis. Dan dokter/bidannya adalah orang desa itu juga yang rumahnya tidak sampai 50 meter dari balai desa.

Orang tua itu rumahnya sekitar 800 meter untuk menuju balai desa.


Sesampainya di balai desa, orang tua itu diperiksa dan lain-lain. Tetapi tidak diberi obat.

Dokter/bidan bilang kalau obatnya ketinggalan di rumahnya. Nanti sore saja datang lagi ke rumahnya untuk mengambil obatnya.


Asal pembaca tahu, dokter/bidan itu sudah dibayar lengkap untuk mengobati/memeriksa dan memberi obat ketika di pagi hari. Tetapi ketika sore hari, dia membuka pengobatan di rumahnya sendiri dengan membayar.


Orang tua itu pun mengeluh. “Tolong diambilkan bu, dekat situ aja Bu.”


Dokter itu pun bilang nanti saja pak, nanti sore bapak ke rumah saya untuk mengambil obatnya


Yang namanya orang tua, tidak banyak protes. Pulang ke rumah tak membawa obat apa pun. Udah tempatnya jauh.


Tempat dokter itu kalau sore pasti bayar. Untuk mengambil obatnya sudah tidak gratis lagi. Kata orang tua tersebut, kalau membeli harganya sekitar 15ribu atau 20ribu…

Tentu saja orang tua itu sore harinya tidak mengambil obatnya.


Cerita itu menggugah hati saya. Orang yang sudah tua berusaha untuk mendapatkan kesehatannya, tetapi malah sia-sia tidak mendapat apa-apa.


Kalimat yang selalu saya ingat yang diucapkan orang tua itu ketika bercerita ke saya adalah

 

“kalau orang sudah punya pangkat, ya seperti itulah. tidak mau susah. sombong”


Mengambil obat yang hanya beberapa puluh meter saja tidak mau. Cuma selisih 2 rumah dari balai desa tersebut. Mengapa juga obat tidak dibawa di dalam tas.




persaudaraan lebih penting dari pada uang

   

Semoga saya dan pembaca tidak punya sifat egois seperti itu. Kita harus mengangkat orang yang lemah.

  

Tulisan Terbaru :



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s